Electronic Music Indonesia

“I can envision one person with a lot of machines – tapes, electronic set ups – singing and speaking, and using a lot of machines.” (Jim Morrison, 1969).

DJ/Producer

Hampir setengah abad sebelum dunia mengenal Skrillex, Jim Morrison  memprediksikan bahwa di masa depan, satu orang dengan banyak mesin akan mencipatakan musik. Dewasa ini setiap anak pemuja musik elektronik ingin membuat musik hanya bermodalkan laptopnya.

Elektronik musik menjanjikan kita sebuah kesempatan tak terbatas untuk mengeksplorasi segala jenis suara dan pencapaian tertentu kualitas suara. Kita tak perlu membeli tom baru untuk mendapatkan variasi suara untuk drum, kita tidak perlu membeli flute hanya untuk menambahkan beberapa nada pada lagu yang kita buat. Derit pintu pun bisa diubah menjadi lagu penuh termasuk drum, bas, dan melodinya.
 Dinamika musik telah berubah, seiring berkembangnya tekhnologi, dan lalu bisnis. Kita hidup dimana semakin banyak orang menikmati musik secara digital. Sekedar untuk mendengarkan musik, kita tidak perlu lagi berdesak desakan mendengarkan pentas musik keroncong seperti hiburan rakyat tahun 60an, Hampir semua musik yang kita dengarkan saat ini adalah replikasi elektronik yang keluar lewat speaker. Ini tentu memungkinkan munculnya hal hal baru, efek efek yang memberi warna pada suara, yang tidak bisa dicapai secara akustik. Musisi kini menjual dan memperdengarkan lagunya secara elektronik. Dan mereka yang melakukan itulah yang mendapat keuntungan lebih besar secara finansial, karena selagi mereka melakukan aktifitas apapun, musik mereka masih mampu menghibur banyak orang, tanpa harus pindah dari panggung ke panggung lainnya.

Pada 1970, Ferruccio Busoni mempublikasikan buku berjudul Sketch of a New Esthetic of Music, yang menjabarkan kemungkiann penggunaan alat elektronik dalam berkreasi secara musikal di masa depan. Itulah untuk pertama kali kita menggagas ide untuk mengekplorasi kreatifitas bermusik dengan media media baru. Mungkin terdengar asing, tapi seni memiliki semangat zamannya (Zeitgeist) sendiri. Seni yang menggelegar adalah penemuan estetika dalam bentuk baru, dan lalu diikuti menjadi trend, hingga ada seniman revolusioner lain menemukan bentuk kreativitas yang lebih baru.
Demikian pula dengan seni, generasi awal peramu dubtep seperti skream dan rusko akan tetap dikenal meskipun dunia kini lebih mengenal Skrillex.  Grand wizzard Theodore akan selalu dikenang sebagai penemu teknik scratching pada turntable meskipun orang orang lebih mengenal para jawara DMC seperti DJ Shiftee atau Q-bert. Semangat untuk terus berkreasi dan menghandirkan hal yang baru dan menghadirkan citra estetik baru dalam musik pantas untuk ditularkan pada musisi2 eketronik muda Indonesia.

Ini yang perlu digaungkan. Bahwa musik elektronik perlu dihindarkan dari kesan hedonisme dunia malam di diskotik. Bahwa hip hop perlu dihindarkan dari kesan musik ghetto dimana banyak douchebag poser hanya ingin terlihat cool. Ini bisa ditekan dengan bemusik elektronik karena kecintaan terhadap musik, menemukan hal hal baru yang bisa dinikmati sebanyak mungkin orang, bukan sekedar keinginan untuk showoff.

Blog ini ditulis untuk berbagi apa yang saya temukan, apa yang saya pikirkan, dan mencatatnya sebelum saya lupa suatu hari nanti. Salam Musik Indonesia.

-virkill-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s